Sabtu, 25 Mei 2013

Pandangan Dasar Islam terhadap Buruh


Cara pandang terhadap buruh menjadi penentu paradigma dan politik perburuhan, karena itu menjadi penting untuk membahas hal ini. Pertama, pandangan kita tentang manusia dan kerja; kedua, relasi antara manifestasi kerja (tenaga) dengan upah; dan ketiga, hak dasar buruh.Melalui ketiga hal pokok ini, maka kita dapat memposisikan buruh dalam masyarakat, hubungan sosial buruh dalam konteks kerja, upah, dan pekerjaan dengan hanya menjual tenaga.

Selama ini ketiga aspek tersebut lebih dipandang dari sudut produksi dan ekonomi belaka, padahal dimensi manusia, kerja, tenaga, upah, dan hak alamiah (dasar) buruh multidimensi dan dalam pola hubungan yang kompleks, bahkan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Reduksi manusia yang multi dimensi ini menjadi hanya ekonomis semata, bahkan menjadi alat reproduksi yang merupakan instrumen produktivitas, menjadikan posisi buruh hanya komoditi dalam pasar kerja.

Dehumanisasi inilah yang menjadi pandangan dasar selama ini terhadap buruh, sehingga pada proses selanjutnya semakin teralienisasi (terasing) buruh dengan kodrat dasarnya sebagai manusia di muka bumi. Posisi yang demikian ini semakin memperoleh legitimasi dari orientasi pembangunan Orde Baru yang bertumpu pada pertumbuhan, stabilitas, dan pemerataan (distribusi) melalui trickle down effect.

Sejarah membuktikan bahwa pandangan dasar itu gagal, bahkan Orde Baru mewariskan kebangkrutan perekonomian nasional dan hutang luar negeri yang sudah melampaui batas psikologisnya. Oleh karena itu, strategi kebijakan pembangunan hendaknya mengubah orientasinya dari trilogi Orde Baru yang gagal, menjadi pendekatan keseimbangan pemenuhan butsarman (kebutuhan dasar manusia) yang manusiawi. Karena dengan demikian, posisi manusia diletakkan dalam posisinya yang sentral dalam pembangunan sebagai instrumen dalam kerangka mencapai kebutuhan dasar manusia.

Selama ini, paradigma lama selalu membela kepentingan pengusaha, segala peraturan pengusaha selalu dienakkan. Tidak hanya itu, dalam prakteknya pengusaha juga melakukan kesewenang-wenangan, di mana upah buruh dibayar murah dan bila ada protes mengerahkan militer untuk menindas buruh, negara membiarkan hal itu terjadi. Kekerasan negara dalam perburuhan sangat tampak di depan mata.

Paradigma lama harus diubah, dan mengingat sebagian besar dari bangsa Indonesia adalah umat Islam, cobalah kita menggali nilai-nilai Islam soal dunia kerja untuk memperoleh inspirasi bagi paradigma baru yang sesuai dengan kebutuhan dasar manusia. Dan kemudian kita perkaya dengan nilai-nilai lain, sehingga memperkuat bangunan paradigma baru, baik itu berasal dari agama, adat maupun imu pengetahuan (teori). Bukankah apa-apa yang baik itu datangnya dan merupakan milik Allah SWT?

Pertama, jangan dibedakan makanan antara majikan dan pekerja. Kedua, pakaian jangan berbeda terlalu mencolok, sebab performance menunjukkan status sosial. Kalau berbeda mencolok, terjadi gap cukup lebar. Jangan lupa dalam kekayaan kita terdapat hak orang miskin. Filosofinya adalah kita tidak bisa kaya kalau tidak mengeksploitasi orang miskin. Karena itu, mereka berhak mendapatkan bagian atas kekayaan yang kita peroleh.

Sistem seperti ini tidak akan membuat orang seenaknya, sebab orang mempunyai rasa malu. Moral agama juga mengajarkan tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah. Ini memacu orang agar tidak mengemis terus. Setelah itu barulah kita menocba merumuskan yang lebih kongkret lagi, misalnya mengenai performance dan kulturnya.

Sistem kinerja yang jelas dan budaya rekognasi akan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), yang selanjutnya dapat meningkatkan status/ posisi masyarakat dan pada akhirnya terjadi peningkatan kompetensi masyarakat dalam memanfaatkan ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan. Dalam jangka panjang, ini akan mengikis pengangguran, kemiskinan, dan ketidakadilan. Keadaan seperti itu membuat suasana kondusif untuk pembangunan seutuhnya di dalam negeri, kondusif untuk membuat peluang kesempatan kerja bagi seluruh warga negara.

Pandangan dasar yang digunakan dalam paradigma baru hendaknya menggambarkan suatu pandangan yang utuh mengenai manusia dan kerja, tenaga dan upah, serta hak buruh seperti yang disebutkan sebelumnya. In sha Allah akan kita bahas pada artikel-artikel yang mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar