Sabtu, 25 Mei 2013

Rukun Iman sebagai sokoguru Struktur Pemerintahan Buruh Islam


Islam sebagai agama diambildari pengertian tentang suatu sistem kepercayaan (tauhid) dan pengamalan (syariat) yang diturunkan dalam bentuk Al-Qur’an, diajarkan lewat Nabi Muhammad SAW dengan penjelasan yang termaksud dalam hadist (Mahmud Syaltut, Islam sebagai Akidah dan Syariah, Bukan Bintang Jakarta, 1972, hlm. 118). Kata Islam sendiri merupakan sebuah kata dalam bahasa arab yang berarti pasrah, yaitu pasrah kepada Allah SWT, tunduk dan patuh, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Oleh karena itu, sistem kepercyaan dalam Islam selalu memiliki ikatan yang kuat dengan amal saleh (perbuatan). Karena percaya kepada adanya Tuhan – Iman -, tidak berarti tanpa amal saleh, dalam arti melaksanakan semua perbuatan yang diperintahkan Tuhan.

Iman sebagai implementasi kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan termuat dalam keseluruhan prinsip ajaran Islam dan sebagai sokoguru struktur Islam (Philip K. Hitti, Op-Cit, hlm. 18). Hal itu terwujud dalam satu ikrar “Tiada Tuhan selain Allah”, satu kalimat agung sebagai pengakuan lisan tentang keesaan Tuhan dan menjadi ungkapan identitas seorang Muslim. Hal ini berbeda dengan Trinitas dalam sistem kepercayaan agama Kristen atau Trimurti dalam sistem kepercayaan agama Hindu yang menunjukkan adanya sistem politeisme dalam monoteisme. Ungkapan agung sebagai sebagai pengakuan keesaan Tuhan juga menunjukkan pengakuan terhadap adanya hak mutlak Tuhan dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Kekuasaan Tuhan yang tak terbatas itu direalisasikan dalam “rukun iman”. Karenanya kepercayaan akan adanya Tuhan berarti menuntut disertainya kepercayaan terhadap adanya Utusan Tuhan, Kitab-ktab Tuhan, Malaikat-malaikat Tuhan, Hari Pembalasan Tuhan, dan adanya Takdir Tuhan.

Utusan Tuhan, yaitu seorang manusia biasa yang mendapatkan kewenangan membawa risalah untuk disebarkan kepada umat manusia di tempat dan pada zaman tertentu atau manusia di seluruh penjuru dunia dan di sepanjang zaman. Meskipun setiap Muslim mempercayai adanya dua puluh lima Rasul Allah SWT, dari Nabi Adam AS sebagai nabi dan manusia pertama hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup segala nabi dan rasul, namun satu-satunya nabi yang wajib diikuti ajaran-ajarannya hanyalah nabi terakhir, Muhammad SAW.

Kepercayaan terhadap para Rasul Allah ini melahirkan kepercayaan terhadap kitab-kitab Allah SWT, karena kitab-kitab Allah SWT ini merupakan akibat dari turunnya para nabi dan rasul. Dari kedua puluh lima rasul itu hanya beberapa rasul saja yang mendapat risalah secara resmi berupa kitab suci. Seorang Muslim hanya mengenal empat kitab suci yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Kitab yang disebut terakhir merupakan konsep penyempurnaan dari segala kitab yang turun sebelumnya. Sebagaimana Rasul yang membawanya, kitab ini berlaku bagi semua bangsa dan cocok untuk diterapkan dalam setiap kondisi zaman. Dengan demikian, percaya kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dan kitab yang mereka bawa, merupakan objek keimanan yang berkaitan.

Hakikat keseluruhan kandungan Al-Qur’an adalah perantara manusia dengan Tuhan. Dari kualitas dan kesempurnaan isinya, All-Qur’an lebih jauh dari Bible (Injil baru maupun lama) atau kitab manapun. Dari segi bahasa, Al-Qur’an diakui sebagai karya sastra yang tertinggi, perpaduan antara puisi dan prosa yang belum dan tidak ada tandingannya sejak kitab ini diturunkan sampai akhir zaman. Untuk itu, di dalam beberapa ayatnya, Al-Qur’an menantang dan menekankan, sekalipun manusia dan jin berkumpul dan bekerja sama untuk membuat karya semacam itu, niscaya mereka tidak akan mampu menandinginya (Q.S Al-Isro’ 17 : 90). Sebab di atas keindahan dan kesempurnaan bahasa yang canggih, Al-Qur’an memuat berbagai aspek kehidupan : mulai dari cerita-cerita sejarah, janji dan hukuman, ibadah dan muamalah, dan kesemuanya bermuarakan pada prinsip-prinsip peradaban dan penyempurnaan akhlak manusia. Lebih dari itu, yang paling menarik adalah bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, yang “seandainya tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi dijadikan pena, dan seluruh air lautan dijadikan tinta, tidak akan cukup mengungkap rahasia ilmu pengetahuan Al-Qur’an” (Q.S Lukman 31 : 27).

Hal-hal inilah sebenarnya yang merupakan keistimewaan Al-Qur’an sekaligus membedakan kitab ini dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya, atau dengan kitab-kitab duniawi hasil budaya manusia yang hanya menekankan ritus-ritus dan filsafat-filsafat moral belaka. Oleh karena ketinggian Al-Qur’an inilah para pengamat Barat menilai, bahwa “kejayaan Islam adalah sebagai kejayaan kitanbnya” (Philip K. Hitti, Op-Cit, hlm. 11). Sebagian dari beberapa pengamat Barat itu, Harry Gaylard , menyatakan :
“Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Tuhan yang didiktekan oleh Jibril kepada Muhammad SAW, sempurna dalam setiap hurufnya. Ia merupakan mukjizat yanb tetap actual hingga kini, sebagai bukti kebenaran-Nya dan kebenaran Muhammad Rasulullah SAW. Dan sebagian dari keajaibannya lagi terletak pada kandungan ajarannya..” (Dikurip oleh Endang Saifudidn Anshari, Wawasan Islam : Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya, Pustaka Salman, Bandung, 1983, hlm. 288).

Kepercayaan lain dalam rukun iman adalah percaya terhadap adanya malaikat-malaikat Allah SWT : mahluk gaib yang tidak terbaca oleh panca indera – hanya pada saat-saat tertentu atas izin Allag SWT. Sebagai “bala tentara” Allah SWT, malaikat selalu tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya. Seorang Muslim percaya adanya sepuluh malaikat dengan berbagai tugasnya. Selanjutnya, Islam mewajibkan umatnya agar mempercayai hari akhir; bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, pada saatnya seluruh kehidupan dan aktivitas dunia akan selesai. Terakhir, percaya kepada takdiir Allah SWT, menunjukkan adanya hak mutlak Tuhan. Di sini, seluruh aktivitas dunia, meskipun secara operasional dilakukan oleh manusia, berasal dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Sebagaimana seluruh amal ibadah manusia, hidup dan matinya, hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa (QS. Ibrahim 14 : 27-28). 

Percaya kepada takdir Allah SWT, sebagai penutup sistem kepercayaan dalam rukun iman, merupakan manifestasi keterkaitan keseluruhan rukun iman. Sebab meyakini tidak ada Tuhan selain Alllah SWT berarti meyakini kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup dan kesatuan tujuan hidup, yang kesemuanya merupakan deriivasi dari kesatuan ketuhanan (Lihat M. Amien Rais, Cakrawala Islam antara Cita dan Fakta, Mizan, Bandung, 1992, hlm. 18). Demikian juga, keseluruhan rukun iman di atas menunjukkan satu keyakinan penuh terhadap kekuasaan Allah SWT yang menguasai seluruh fenomena alam; jasmaniah maupun ruhaniah, alam nyata dan alam gaib, dunia materi dan dunia nonmateri. Di samping percaya terhadap kekuasaan Allah SWT dalam bentuk alam materi seperti kitab-kitab-Nya – baik yang tertulis dalam bentuk ayat-ayat maupun yang tersirat berupa alam semesta – maupun utusan-utusan-Nya, keyakinan adanya Tuhan juga ditunjukkan dengan adanya kehidupan dan aktivitas lain di luar jangkauan panca indera dan pikiran manusia. Kepercayaan tentang adanya malaikat telah menuangkan suatu ide, “bahwa Tuhan juga menguasai alam spiritual” (Michael A. Boisard, Humanisme dalam Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1980, hlm. 57). Keyakinan penuh dan universal dalam keseluruhan aspek ini melahirkan konsep tauhid, di dalamnya terletak esensi seluruh ajaran Islam dan fondasi seluruh bangunan Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar